Saudagar Minang Raya

Categories
Artikel

Wisata Sumatera Barat: Perjalanan Mengenal Budaya Minangkabau

Mengenal budaya minangkabau, Sumatera Barat memiliki ragam warisan budaya yang sangat memukau dan kaya akan keindahan alamnya. Warisan budaya ini menghantarkan minangkabau dikenal oleh mancanegara. Kebudayaan yang paling menonjol di daerah ini merupakan tradisi Minangkabau yang sampai saat ini masih dirawat secara baik oleh masyarakatnya. Artikel ini akan mengajak anda lebih dekat mengenal keunikan tradisi Minangkabau.

Minangkabau memiliki tradisi yang unik, mulai dari arsitektur rumah adat, kuliner hingga tradisi adat yang masih dipertahankan hingga saat ini. Selain itu, Minangkabau juga memiliki bahasa yang khas dan masih digunakan sebagai alat dalam berkomunikasi sampai saat ini.

Masyarakat Minangkabau telah lama mengenal kebudayaan, mulai dari ukiran, pakaian dan perhiasan. Namun perkembangannya tidak merata, hanya dirasakan di sebagian tempat saja. Minangkabau kaya akan budaya, sehingga setiap daerah mempunyai ciri khas dari kebudayaan mereka masing-masing. Berikut bagian dari budaya Minangkabau yang harus dikunjungi ketika berada di Sumatera Barat;

Arsitektur Rumah Adat Minangkabau

Minangkabau memiliki arsitektur rumah gadang yang sangat unik. Rumah adat Minangkabau ini memiliki atap seperti tanduk kerbau yang disebut dengan ‚Äúgonjong‚ÄĚ. Bangunan ini juga melambangkan kekuatan, kemakmuran dan keharmonisan keluarga. Selain itu, rumah gadang juga memiliki

rumah adat minang

Salah satu ciri khas yang paling mencolok dari budaya Minangkabau adalah arsitektur rumah adat yang unik. Rumah adat Minangkabau memiliki atap berbentuk tanduk kerbau yang disebut “gonjong”. Oleh karena itu, rumah gadang disebut juga sebagai bangunan bergonjong. Bangunan ini melambangkan kekuatan, kemakmuran, dan keharmonisan keluarga.¬†

Kemudian hal yang menarik lainnya dapat kita lihat dari proses pembangunan rumah gadang yang aslinya tidak menggunakan paku untuk merekatkan dan menyambung dua bagian kayu. Bangunan ini hanya menggunakan pasak, sehingga rumah gadang ini juga tahan gempa, karena saat terjadinya gempa bangunan tersebut berayun mengikuti ritme goncangan. 

Saat ini rumah gadang ini banyak di Nagari Pariangan, memasuki kawasan ini akan memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Anda akan disuguhkan dengan perkembangan budaya dan sejarah yang masih kental.

Baca juga : Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi di Sumatera Barat

Kuliner Khas Minangkabau

Jika anda berkunjung ke Sumatera Barat, maka kuliner khas Minangkabau akan memanjakan lidah kalian. Kuliner ini tidak boleh anda lewatkan, karena citra rasanya yang enak dan memiliki ciri khas yang tidak bakal bisa dinikmati di tempat lain. Minangkabau kaya akan kuliner, salah satu masakan yang paling terkenal adalah Rendang.

rendang

Rendang merupakan hidangan yang berbahan dasar daging yang dimasak dengan menggunakan santan dan rempah-rempah. Cita rasa yang dihasilkan dari perpaduan daging, santan dan rempah ini tidak perlu lagi dipertanyakan. Rendang telah menjadi salah satu makanan terpopuler di Indonesia.

Selain rendang, juga ada  makanan khas lainnya, seperti Sate Padang, nasi kapau, gulai daun singkong dan lain-lainnya. Mencicipi kuliner khas Minangkabau akan memuaskan selera Anda dan membawa Anda dalam perjalanan rasa yang tak terlupakan.

Baca juga : Menikmati Keindahan Ramadhan di Sumatera Barat: Tradisi, Kuliner, dan Wisata

Tradisi Adat yang Dilestarikan

Adat di Minangkabau berlandaskan kepada islam yaitu ‚Äúadat basandi syara‚Äô, syara‚Äô basandi kitabullah‚ÄĚ. Hingga saat ini masyarakat minangkabau masih melestarikan adat tersebut, mulai dari batagak pangulu, balimau, tabuik, makan bajamba dan lainnya. Kemudian randai bagian dari tradisi seni pertunjukan legendaris yang masih terkenal hingga saat ini.

Randai merupakan seni pertunjukan dari teater tradisional Minangkabau yang masih eksis hingga saat ini. Pertunjukan randai ini melibatkan tarian, musik dan dialog, sehingga perpaduan tersebut menghasilkan ciri khas tersendiri bagi randai dibandingkan seni teater lainnya.

Kemudian, pertunjukan randai ini mengangkat cerita-cerita Minangkabau dengan perpaduan tampilan keindahan gerakan tari serta kepiawaian aktor dalam menghidupkan karakter.  Menyaksikan pertunjukan randai akan memberikan Anda gambaran yang mendalam tentang sejarah dan budaya Minangkabau.

Selain itu, tradisi pernikahan adat Minangkabau juga patut untuk disimak. Tradisi ini melibatkan prosesi yang unik, seperti tari-tarian, upacara adat, pengantin yang diarak menggunakan kain songket, dan acara bersanding di hadapan keluarga dan tamu undangan. Perjalanan ke Sumatera Barat memberikan kesempatan yang langka untuk menyaksikan tradisi adat Minangkabau yang indah dan bernuansa megah.

Baca juga : Peran pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Festival Budaya dan Acara Adat

Minangkabau juga kaya akan festival budaya, untuk anda yang melakukan perjalanan ke Sumatera Barat, jangan lewatkan kesempatan untuk dapat menghadiri festival budaya dan acara adat tersebut. Salah satu festival budaya minangkabau yang paling terkenal adalah Tabuik Festival Di Kota Pariaman.Upacara Tabuik (1)

Festival tabuik di Kota Pariaman ini dirayakan secara meriah dan penuh warna, di mana masyarakat setempat memeriahkan peringatan Asyura dengan membawa patung-patung Tabuik yang kemudian diarak dan ditenggelamkan di laut. Festival ini diadakan satu kali setahun dan dapat mengundang banyak perhatian orang untuk menyaksikannya.

Kemudian, salah satu acara adat yang populer yaitu Maanta Pasek di Bukittinggi. Acara ini  juga menampilkan tradisi unik, di mana pemuda setempat memperebutkan hadiah di atas kuda dengan keahlian dan keberanian mereka.

Kerajinan Tangan Minangkabau

Kerajinan tangan Minangkabau ini harus menjadi salah satu tempat yang harus anda kunjungi di Sumatera Barat. Anda dapat melihat serta membeli hasil kerajinan tangan ini sebagai oleh-oleh perjalanan anda ke Sumatera Barat. Kerajinan ini tentunya dibuat langsung oleh masyarakat setempat. Selain dengan membeli serta melihat kerajinan, anda juga dapat merasakan sensasi menjadi seorang pengrajin tersebut.

Minangkabau terkenal dengan penghasil tenunan songket, sebuah kain yang indah dengan motif dan warna yang khas. Anda dapat mengunjungi pusat kerajinan tangan di daerah seperti Kota Padang Panjang atau Kota Bukittinggi untuk melihat langsung proses pembuatan songket dan membeli produk-produk kerajinan lainnya seperti anyaman bambu, ukiran kayu, dan perhiasan tradisional.

Baca juga : Asal Usul Nama Minangkabau, Ternyata Begini Cerita Rakyatnya

Kesimpulan

Perjalanan budaya  ke Sumatera Barat merupakan perjalanan yang dapat memberikan pengalaman yang memikat dan memperkaya pengetahuan kita terkait tradisi Minangkabau yang kaya. Kemudian kita dapat  menjelajahi arsitektur rumah adat, mencicipi kuliner khas, menyaksikan pertunjukan tradisional, dan berpartisipasi dalam festival budaya akan membawa kita dalam perjalanan yang mendalam ke dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat Minangkabau. 

Untuk oleh-oleh kita juga dapat membeli langsung dari pengrajin setempat sambil  merasakan nikmatnya nuansa menjadi pengrajin. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi keunikan budaya Minangkabau yang memukau saat mengunjungi Sumatera Barat.

Categories
Artikel

Asal Usul Nama Minangkabau, Ternyata Begini Cerita Rakyatnya

Mengenal arti dari nama Minangkabau, ternyata memiliki makna yang sangat dalam menurut cerita rakyat yang beredar di Minangkabau sendiri.

 

Asal usul nama Minangkabau itu, dimulai saat adanya momen Kerajaan Majapahit pergi berkunjung ke Kerajaan Pagaruyung. Tujuan dari Kerajaan Majapahit itu ialah untuk berperang.

 

Istilah nama Minangkabau itu, dikenal juga oleh masyarakat sebagai penyebutan kepada penduduk asli dari Provinsi Sumatera Barat. Biasanya, kata Minangkabau bakal disingkat menjadi orang Minang.

 

Asal usul kata Minangkabau, berdasarkan cerita rakyatnya, dahulu kala karena ingin mengalahkan Kerajaan Majapahit yang datang ke Kerajaan Pagaruyung.

 

Karena tak ingin terjadinya perang besar yang bisa menewaskan serta merugikan rakyat di Minangkabau, para petinggi Kerajaan Pagaruyung saat itu memilih untuk berdamai.

 

Tapi, ternyata Kerajaan Majapahit tidak dan tetap bersikukuh untuk berperang. Lalu, para petinggi di Kerajaan Pagaruyung berpikir sejenak, hingga di dapatilah sebuah cara untuk mengalahkan Kerajaan Majapahit.

 

Bermula saat Pertarungan Kerbau Dewasa Vs Anak Kerbau

 

Berdasarkan cerita rakyat terkait asal usul nama Minangkabau, dimulai pada peperangan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pagaruyung ini. Tapi, mereka bukan perang yang menewaskan ribuan rakyat.

 

Para petinggi Kerajaan Pagaruyung, mengajak Kerajaan Majapahit untuk berunding dan memutuskan untuk mengadu kerbau mereka. Konsekuensi dari adu kerbau itu, disebut-sebut bahwa yang menang bakal bisa menguasai Kerajaan Pagaruyung.

 

Keinginan dari para petinggi Kerajaan Pagaruyung itu, disetujui oleh utusan Kerajaan Majapahit. Saat adu kerbau bakal dilakukan, masing-masing kerajaan mencari kerbau terbaik yang bakal melangsungkan pertandingan.

 

Berdasarkan cerita rakyat terkait asal usul nama Minangkabau, ternyata Kerajaan Majapahit berhasil menemukan kerbau yang sangat besar dan kuat. Hal itu pun membuat semangat dari Kerajaan Majapahit semakin besar.

 

Berdasarkan ukuran dan kekuatan kerbau, Kerajaan Pagaruyung ternyata memilih kerbau yang lebih kecil dan bahkan sangat lemah. Kerbau yang dipilih Kerajaan Pagaruyung, hanyalah anak kerbau yang pasalnya juga masih menyusu.

 

Kendati demikian, ternyata ada tujuan dan pemikiran yang sangat hebat dengan dipilihkan anak kerbau itu oleh Kerajaan Pagaruyung.

 

Sebelum dilangsungkannya pertandingan, anak kerbau yang dipilih Kerajaan Minangkabau itu dipisahkan dahulu dari induknya, hingga tiga hari lamanya. Barulah setelah itu, anak kerbau itu diajak bertanding melawan kerbau dewasa.

 

Pada sisi mulut dan tanduk anak kerbau, dipasangkan sebuah alat yang dapat merobek dan menusuk lawannya. Tujuannya, ternyata supaya anak kerbau ini bisa menang.

 

Saat hari pertandingan tiba, Kerajaan Majapahit tampil dengan beraninya membawa kerbau yang sangat besar dan kuat. Tapi, Kerajaan Pagaruyung tak sedikit pun gentar.

 

Saat kerbau dilepaskan di pertandingan itu, anak kerbau yang telah dikurung tiga hari lamanya dan merasa haus akan air susu, langsung mengejar kerbau dewasa yang besar itu.

 

Tanpa pikir panjang, anak kerbau milik Kerajaan Pagaruyung, mengira bahwa kerbau dewasa milik Kerajaan Majapahit itu adalah ibunya.

 

Anak kerbau itu, pergi ke arah puting susu kerbau, dan menggigit badan kerbau milik Kerajaan Majapahit hingga robek. Karena, di mulut dan tanduk anak kerbau itu, telah dipasang oleh Kerajaan Pagaruyung sebuah alat untuk melukai lawan.

 

Tak butuh waktu lama, kerbau besar milik Kerajaan Majapahit itu, bisa lumpuh dengan cepat ketika melawan anak kerbau milik Kerajaan Pagaruyung.

 

Saat kemenangan itulah, rakyat Pagaruyung bersorak “Manang Kabau” jika diartikan ke bahasa Indonesia, memiliki terjemahan “Menang Kerbau”.

 

Lalu, karena didengar sepintas oleh seluruh rakyat, terdengarlah seperti bunyi kata “Minangkabau”.

 

Makna dari Pertarungan Kerbau

 

Cerita rakyat terkait asal usul nama Minangkabau, ternyata bukan saja dikenang sebagai cerita untuk hiburan semata. Tapi, juga menyimpan banyak sekali pesan dan pelajaran yang bisa diambil.

 

  1. Berpikir Kritis

 

Dengan diajaknya para petinggi Kerajaan Pagaruyung bertarung atau berperang. Tidak langsung menyulut emosi dan ego semata. Tapi, masyarakat Minang haruslah berpikir dahulu sebelum bertindak.

 

Lalu, memilih mana yang lebih minim resiko dan kemungkinan menangnya besar.

 

  1. Orang-orang Cerdik

 

Dari cerita rakyat yang telah penulis paparkan di bagian awal tulisan ini. Menyiratkan bahwa petinggi Minangkabau itu, dahulunya adalah orang yang cerdik.

 

Mereka, mampu memikirkan bagaimana caranya menang tanpa harus termakan ego diri sendiri dan menyusahkan rakyatnya.

 

Baca juga:

Mereka, malah memilih anak kerbau yang jika dipikir-pikir, bakal dikalahkan dengan mudah. Tapi ternyata, karena kecerdikan itulah, anak kerbau milik Kerajaan Pagaruyung bisa menang.

 

Nah, bagaimana dengan tulisan terkait cerita rakyat asal usul nama Minangkabau berikut? Semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita itu ya.

 

Categories
Artikel

5 Istilah Penting Dalam Adat Minang Yang Wajib Kamu Tau

Minangkabau merupakan salah satu suku penganut sistem matrilineal di dunia. Salah satu suku terbesar di Indonesia ini sebagian besar mendiami Provinsi Sumatera Barat.

Orang Minang saat ini merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia. Kata matrilineal berasal dari dua kata yaitu kata matri (ibu) dan lineal (garis). Artinya sistem kekerabatan yang mengacu pada garis keturunan ibu.

Jika membahas tentang sistem matrilineal suku Minang, maka ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi kebanyakan orang.

Berikut ini 5 istilah penting dalam Adat Minang yang wajib kamu tau.

  1. Bundo Kanduang

Bundo kanduang merupakan salah satu istilah populer dalam sistem matrilineal suku Minangkabau. Bundo kanduang secara harfiah bermakna “ibu sejati”, yaitu seorang perempuan Minang yang menjalankan perannya sebagai seorang ibu dalam konteks adat dan budaya.

Kehadiran seorang perempuan sangat penting dalam keluarga Minang karena dalam kekerabatan matrinileal garis keturunan mengikuti garis ibu. Jika tidak memiliki keturunan perempuan, maka garis keturunan keluarga tersebut bisa terputus.

  1. Ninik Mamak

Ninik mamak adalah saudara kandung laki-laki dari pihak ibu atau sebutan lain dari paman. Dalam suatu perkawinan, seorang ninik mamak memiliki peran besar terhadap kemenakan (keponakan) terutama keponakan perempuan. Ninik mamak berperan dalam mendidik semua keponakannya.

Pada intinya ninik mamak memiliki posisi yang kuat serta dominan dalam memimpin keluarga, bahkan bisa lebih kuat daripada ayah kandung.

  1. Sumando

Sumando berasal dari bahasa Melayu Kuno, yang artinya menumpang sementara waktu. Dalam bahasa Minang, sumando berarti menantu laki-laki.

Setelah menikah, seorang pria Minang menjalankan peran sebagai urang sumando atau orang yang menumpang di rumah keluarga istrinya.

Dalam adat Minang¬†urang sumando digambarkan seperti¬†“abu di ateh tunggua”, artinya mereka memiliki posisi yang sangat lemah di tengah keluarga istrinya karena dianggap tamu. Namun, sebagai¬†urang sumando¬†mereka tetap sangat dihormati dan dipanggil berdasarkan gelar yang mereka miliki diantaranya Bagindo, Sutan, atau Sidi.

  1. Malakok

Menurut adat Minang, seorang anak yang lahir dari perkawinan antara laki-laki Minang dengan perempuan bukan Minang tidak bisa dimasukkan ke dalam garis keturunan Minangkabau. Anak yang lahir dari ibu non-Minang ini berstatus “anak tidak bersuku”.

Meski demikian, anak yang tidak bersuku ini bisa diberikan suku dengan cara menjalani proses adat yang disebut dengan malakok.

Secara bahasa, malakok memiliki arti menempel atau melekat. Seorang anak yang ingin malakok harus memenuhi syarat-syarat dan tata cara adat sebagai berikut :

  1. Dengan menyediakan siriah langko (sirih) yang di atasnya terdapat emas atau bisa diganti dengan uang tunai.
  2. Menyediakan seekor kerbau atau kambing yang dipotong dalam upacara pemberian suku.

3.Perwakilan kaum yang memiliki suku menerimanya.

  1. Mendapatkan persetujuan dari semua panghulu suku atau pemangku adat di wilayah setempat.

BACA JUGA :

Setelah syarat dipenuhi, anak yang menjalani prosesi malakok akan disebut dengan kemenakan bertali emas.

  1. Pasumandan dan Mandan

Penjelasan sebelumnya disebutkan kalau seorang laki-laki dalam struktur adat Minang disebut sebagai seorang sumando. Sementara kebalikannya, perempuan di tengah keluarga suaminya disebut dengan mandan. Keluarga pihak laki-laki menyebut istri dari saudara laki-lakinya itu dengan istilah pasumandan.

Itulah beberapa istilah wajib kamu tahu yang terkait dengan sistem matrilineal di adat Minang.